Selasa, 24 September 2013

 



Sebuah bukti nyata mengenai keberadaan alien di alam semesta ini akhirnya ditemukan. Hal ini setelah para peneliti memeriksa sebuah balon luar angkasa yang pernah mereka lepaskan.

Seperti yang dilansir oleh Mashable (19/9), penemuan ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Sheffield. Kemudian, hal ini pun dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Cosmology yang juga diangkat oleh beberapa koran lokal.

Adapun bentuk alien ini tak seperti yang tergambar dalam film-film fiksi ilmiah selama ini. Alien yang ditemukan para peneliti adalah sebuah mikroorganisme yang menempel dalam balon angkasa mereka.

Sebelumnya, Professor Milton Wainright dan tim meluncurkan balon ini dan dilengkapi dengan beberapa organisme steril yang bisa menyebar ketika menyentuh stratosfer.

Ternyata, organisme ini kembali ke bumi dengan beberapa biomorph, bentuk organisme terkecil yang belum pernah dijumpai di bumi. Kemungkinan, alien ini sendiri dulu asalnya dari meteor dan komet yang hancur tergerus atmosfer bumi.

"Pendapat kami kehidupan selama ini bersumber dari luar angkasa yang datang ke bumi. kehidupan memang tak hanya ada di sini saja, sehingga bisa dipastikan bumi bukanlah sumber kehidupan satu-satunya.

Peneliti pun kemudian berbondong-bondong untuk melakukan beberapa tes lanjutan. Jika banyak yang membenarkan bahwa ini merupakan organisme baru, maka teori evolusi kehidupan yang berkembang selama ini pun sepertinya harus dikaji ulang kebenarannya.

Posted on 06.10 by Fikri Gingerhead

No comments

Selasa, 10 September 2013







 Pemerintah Jepang hari ini mengumumkan sedang mendanai sebuah proyek mahal yakni membangun dinding es bawah tanah untuk menghentikan kebocoran air terkontaminasi radioaktif dari pabrik nuklir Fukushima.
Keputusan itu diambil beberapa hari sebelum Komite Olimpiade Internasional (IOC) memilih antara Tokyo, Istanbul, dan Madrid yang akan menjadi kota tuan rumah pelaksanaan Olimpiade 2020, seperti dilansir surat kabar the Washington Post, Selasa (3/9).
Pabrik nuklir Fukushima Dai-ichi mengalami kebocoran sehingga melepaskan ratusan ton air bawah tanah yang terkontaminasi radioaktif ke laut sejak gempa dan tsunami menghancurkan kompleks itu pada 2011 lalu. Beberapa kebocoran dari tangki penyimpanan air yang tercemar dalam beberapa pekan terakhir telah memicu pandangan pemilik fasilitas itu, Tokyo Electric Power Co (TEPCO), tidak mampu mengatasi masalah.

"Bukannya membiarkan masalah ini kepada TEPCO, pemerintah akan mengambil alih," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. "Dunia sedang mengamati apakah kita dapat menangani air yang terkontaminasi dan juga seluruh pabrik."
Menurut pejabat dari badan energi Jepang, Tatsuya Shinkawa, pemerintah Jepang berencana menyediakan dana sekitar Rp 5,1 triliun sampai akhir 2014 untuk dua proyek, yakni tembok es dan meningkatkan unit perawatan air yang dimaksudkan untuk menghilangkan semua unsur radioaktif.
Pemerintah tidak akan membayar untuk tangki air yang sangat dibutuhkan dan peralatan lainnya yang TEPCO gunakan untuk menghentikan kebocoran.
Dinding es akan membekukan tanah hingga kedalaman 30 meter melalui pipa pendingin sampai minus 40 derajat Celcius. Dinding itu akan memblokir air yang terkontaminasi keluar dari fasilitas sekitarnya, serta menjaga air bawah tanah memasuki reaktor serta gedung turbin.
Proyek telah diusulkan oleh TEPCO dan pemerintah pada Mei lalu ini diharapkan selesai pada Maret 2015.

Metode serupa telah digunakan untuk memblokir air dari bagian terowongan dan kereta bawah tanah. Tetapi membangun tembok yang mengelilingi empat bangunan reaktor dan fasilitas yang terkait dengan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Dinding itu dapat menelan biaya antara Rp 3,3 triliun sampai Rp 4,4 triliun untuk instalasi awal, ditambah biaya tahunan dan biaya pemeliharaan. '
TEPCO telah membangun lebih dari seribu tangki yang berisi 335 ribu ton air yang terkontaminasi di pabrik itu, dan jumlah itu tumbuh 400 ton saban harinya.
TEPCO juga membangun dinding lepas pantai terbuat dari panel baja di sepanjang pantai untuk menjaga air terkontaminasi menyebar lebih lanjut ke laut.

Posted on 05.49 by Fikri Gingerhead

No comments